Thursday 12 March 2009

through my perspective

saya sangat menghargai perbedaan dan menjunjung tinggi pemikiran bahwa setiap orang punya perspektif yang berbeda. orang tua saya pun menganut sistem nilai yang sama, anaknya dibebaskan berbicara dan mengutarakan pendapat. catat, hanya sebatas berbicara dan mengutarakan pendapat. bukan berarti boleh melakukan hal sesuka hati di luar keputusan mereka. ternyata nggak semua hal bisa dikompromikan. atas nama "demi yang terbaik untuk anak", tiap detil kehidupan saya pun dinilai. pada akhirnya, nggak ada lagi yang namanya beda individu beda perspektif.

seorang teman berkata : "you must see ini mother's perspective". ya, but im not her. kalaupun saya dipaksa melihat dari sudut pandang orang tua, pasti mereka begitu karna ingin yg 'terbaik' buat sang anak. tapi apakah 'yang terbaik' menurut orang tua juga berarti 'yang terbaik' untuk anak? hey dear! sebenernya siapa sih yg menjalani kehidupan? bukannya nggak ada orang yg lebih paham tentang kita selain diri kita sendiri? (it's my perspective)

jadi, dalam menentukan hidup seorang anak, perspektif siapa yg harus digunakan? perspektif orang tua sebagai pembuat kebijakan dan penyedia fasilitas hidup? atau perspektif si anak sebagai pelaksana kehidupannya sendiri?

sama saja halnya jika bicara soal negara. semua orang punya perspektif masing-masing mengenai apa yg terbaik buat negara. dan lagi-lagi, semua bicara atas nama "demi yang terbaik untuk negara". si menteri keuangan bilang A, si presiden bilang B, sedangkan si petani bilang C. lalu perkataan siapa yg harus dibenarkan? sementara urusan negara bukanlah urusan menteri keuangan semata, bukan juga urusan tentang presiden seorang, tapi ini urusan semua makhluk hidup dalam negara yang mencakup jajaran tertinggi pemerintahan hingga petani, pengusaha, pengamen, karyawan, ibu rumah tangga, fakir miskin dan lain sebagainya.

lagi, dalam menentukan hidup sebuah negara, perspektif siapakah yang harus digunakan?

post signature

Grab this Widget ~ Blogger Accessories